VIVAnews -- Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Solo mendesak pemerintah untuk menghentikan penjualan bahan baku kayu ke China. Cara itu merupakan kunci untuk membendung masuknya produk mebel China dengan harga murah, apalagi sejak diberlakukannya ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA).
Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Solo Raya, David R Wijaya mengatakan untuk mencegah masuknya produk mebel China sebenarnya para pengusaha mebel dalam neger bisa memanfaatkan bahan baku dengan baik, yakni jangan sampai dijual kepada pengusaha mebel dari negara China.
"Kami bikin bahan baku itu sampai barang jadi. Kalau bahan baku dijual ke China, nantinya masuk lagi kesini sudah dalam bentuk barang jadi. Sehingga nilai sudah bertambah dan yang menikmati pengusaha mebel China," kata David kepada VIVAnews di Solo, Rabu, 3 Februaru 2010.
Dia menjelaskan, segala macam bahan baku dimiliki Indonesia, seperti kayu, rotan, bijih besi, emas, minyak dan tembaga. Tetapi hingga saat ini bahan tersebut justru diekspor secara mentah. Nah, ketika kembali lagi sudah menjadi barang jadi, nilai pertambahannya bertambah banyak.
"Itu merupakan kesalahan terbesar masyarakat kita karena semua masyarakat dunia membutuhkan bahan baku tersebut," ungkapnya.
Dia menuturkan jika penjualan bahan baku itu dilarang, semisal China akan mengimport bahan baku mebel kayu dipastikan akan mengalami kesulitan untuk memperolehnya. Walhasil, dengan kondisi seperti itu mau tidak mau China akan mengambil dalam bentuk barang jadi.
Minimal bahan baku tersebut sudah melalui proses pengolahan seperti halnya sudah berbentuk barang komponen. Contohnya mereka membutuhkan kayu untuk membuat meja ataupun kursi. "Kami bisa menjualnya dalam bentuk komponen kaki meja maupun sandaran kursi. Minimal value addednya itu terasa," katanya.
David menambahkan adanya ACFTA ini yang dikhawatirkan pengusaha mebel lokal kedepannya adalah apabila produsen mebel China membuka pabrik didalam negeri. Dengan era perdagangan bebas seperti ini sangat memungkinkan sekali untuk membuka pabrik disini.
Laporan: Fajar Sodiq | Solo