VIVAnews - PT Bukit Darmo Property Tbk (BKDP) dikabarkan berencana mengajak mitra strategis untuk mengembangkan proyek-proyek perhotelan perseroan yang akan dibangun di Surabaya Barat.
Menurut sumber VIVAnews, perseroan saat ini, sedang menjanjaki kemitraan tersebut dengan salah satu investor asal Asia. "Kabarnya, Bukit Darmo memberikan opsi pengelolaan bersama terhadap investor itu," ujarnya di Jakarta, Selasa malam, 26 Januari 2010.
Sekretaris Perusahaan Bukit Darmo Brasada Chandra ketika dikonfirmasi mengakui, perseroan sedang menjajaki kerja sama dengan salah satu investor Asia yang juga bergerak di bidang properti.
"Sebetulnya sudah banyak mitra strategis yang ingin menjalin kerja sama, termasuk dari Asia," kata dia kepada VIVAnews di Jakarta, Rabu, 27 Januari 2010.
Dia mengakui, perseroan menawarkan pada para investor untuk menggarap proyek-proyek perhotelan Bukti Darmo, dari pembangunan sampai pemasaran maupun pengelolaannya. "Ada yang ingin menyuntikan dana dan ada pula yang hanya berminat mengelola bersama," tutur Brasada.
Per 31 Desember 2009, PT Adhibalaraja menguasai saham berkode BKDP sebanyak 43,16 persen, Ariesianti Budhiprawira 5 persen, Hendro Sumampow 9,96 persen, dan sisanya dimiliki publik.
Pada perdagangan Selasa, 26 Januari 2010, BKDP ditutup menguat Rp 1 (0,80 persen) ke level Rp 124. Broker PT Trust Securities dengan kode broker BR tercatat sebagai broker yang paling banyak mengoleksi saham Bukit Darmo.
Manager Investasi PT Reliance Asset Management Deni Hamzah berpendapat, bila posisi hotel yang akan dibangun perseroan strategis dan segmentasi yang ditarget menjanjikan akan memberikan kontribusi pada pendapata perseroan.
Namun, dia menyarankan, hindari dulu BKDP untuk jangka pendek sambil menanti kepastian kerja sama tersebut. Sebab, minimnya likuiditas bisa menahan pergerakan saham perseroan.
Seperti diketahui, pendapatan usaha Bukit Darmo per 30 September 2009, mencapai Rp 30,71 miliar atau turun 281,57 persen ketimbang periode yang sama 2008 sebesar Rp 117,19 miliar.
Laba bersih BKDP juga turun 67,93 persen menjadi Rp 3,35 miliar atau Rp 0,56 per saham dibandingkan kuartal III-2008 yang mencapai Rp 10,46 miliar atau Rp 1,74 per saham.
antique.putra@vivanews.com