Bisnis

Investor Abu Dhabi Lirik Saham Indo Acidatama

Selain investor Timur Tengah itu, salah satu BUMN juga berminat dan mengajukan penawaran.

Senin, 25 Januari 2010, 10:35 WIB
Antique
Ilustrasi Pabrik Kimia (uic.co.id)

VIVAnews - Saham yang dimiliki salah satu pemegang saham mayoritas PT Indo Acidatama Tbk (SRSN) kabarnya sedang diincar investor asing asal Abu Dhabi.

"Pemodal itu tertarik memiliki saham, karena Indo Acidatama adalah perusahan ethanol terbesar di Indonesia," kata sumber VIVAnews di Jakarta, Jumat malam, 22 Januari 2010.

Selain investor Timur Tengah itu, menurut sumber, salah satu perusahaan milik negara juga berminat dan mengajukan penawaran harga.

Namun, ketika dimintai konfirmasi, Panuti, sekretaris Direktur Utama Indo Acidatama tidak bersedia berkomentar. Dia menyarankan, agar pertanyaan tersebut dikirim terlebih dahulu melalui email atau faksimili.

Per 31 Desember 2009, PT Budhi Bersaudara Manunggal memiliki saham berkode SRSN sebesar 14 persen, PT Dwidana Sakti Sekurindo 7 persen, PT Kemiri Sarana Investama 13, dan PT Trisetijo Manunggal Utama 14 persen, serta South East Unicorn Inc sebanyak 30 persen. Sedangkan sisanya dimiliki publik.

Pada perdagangan Jumat, 22 Januari 2010, SRSN ditutup menguat Rp 1 (1,56 persen) ke level Rp 65. Broker PT Amantara Securities dengan kode broker YU tercatat sebagai broker yang paling banyak mengoleksi saham Indo Acidatama.

Deni Hamzah, manajer investasi PT Reliance Asset Management berpendapat, bakal masuknya investor asing ke dalam daftar kepemilikan saham biasanya memberikan angin segar bagi permodalan perseroan. "Begitu pula terhadap pergerakan sahamnya di lantai bursa," kata dia.

Namun, dia menyarankan, pelaku pasar tetap menunggu konfirmasi mengenai kejelasan rencana tersebut, baik dari pihak perseroan maupun investor yang berminat.

Seperti diketahui, perseroan memproyeksikan penjualan sepanjang 2009 turun menjadi Rp 307,2 miliar dibanding periode sebelumnya Rp 313,9 miliar. Penurunan tersebut dipengaruhi turunnya harga jual produk di pasar internasional dan meningkatnya harga bahan baku.

Direktur Indo Acidatama Wong Lukas Yoyok Nurcahya mengatakan, laba bersih pada 2009 juga diperkirakan turun akibat krisis ekonomi global sejak kuartal III-2008 hingga awal 2009.

"Penurunan harga di pasar internasional sampai 50 persen," kata dia usai paparan publik perseroan di gedung bursa efek, Jakarta, belum lama ini.

antique.putra@vivanews.com

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atau 
  
webtorial