VIVAnews - Direktur Jenderal Kerjasama ASEAN Kementerian Luar Negeri, Djauhari Oratmangun menyatakan penundaan pelaksanaan ASEAN-China Free Trade Agreement justru akan merugikan Indonesia sendiri.
Pasalnya Indonesia dapat menjadi pemain utama dalam ACFTA karena berbagai keunggulan produk yang dihasilkan dibandingkan dengan Negara ASEAN yang lainnya.
“Hal yang saat sebaiknya ditempuh Indonesia adalah mencari win-win solusinya dengan China karena hanya Indonesia saja yang panik menghadapi ACFTA sedangkan Negara ASEAN yang lainnya tidak ada gejolak,” ujarnya di Yogyakarta.
Menurutnya jika Indonesia tidak mengambil kesempatan dalam ACFTA maka negera lain akan menyerobotnya dan itu akan merugikan Indonesia. Padahal produk dari Indonesia memiliki banyak keunggulan dibandingkan negara lain di ASEAN sehingga komoditas yang diproduksi sangat mampu bersaing dalam era perdagangan terbuka. Apalagi, posisi Indonesia adalah pemain utama di ASEAN.
“Indonesia sangat memungkinkan untuk menjadi pemain utama di tingkatan global. Hal itu bisa dilihat dari infrastruktur politik yang sudah berjalan on the track maupun infrastruktur sosial yang sedang dibenahi,” katanya.
Lebih lanjut Djauhari menyatakan sumber daya manusia yang ada di Indonesia sangat kreatif dan bisa bersaing dengan negara lain. Di wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah adalah salah satu daerah di Indonesia yang sangat mampu untuk melakukan persaingan itu.
”Indikatornya adalah sumber daya manusia, ketrampilan serta kreativitas di kedua daerah tersebut sangat tinggi. Sehingga hal itu sangat berpotensi untuk berkembang dan berkompetisi,” tandasnya
Djauhari mengungkapkan bahwa free trade agreement yang menjadi sorotan sebenarnya ada tiga. Yaitu di bidang barang, jasa dan investasi. Di ranah ini, Indonesia memiliki keunggulan.
“Setelah dengan China maka free trade agreement juga akan dilakukan dengan India tahun 2012 dan akan terus hingga merambah ke negara Eropa maupun Amerika Latin,” pungkasnya.
Laporan: KDW | Yogyakarta