VIVAnews - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) kembali melirik pinjaman dalam mata uang renminbi guna memenuhi anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp 74 triliun.
"Pinjaman yang akan dicari PLN bukan hanya berbentuk dolar AS, tetapi juga bisa berbentuk renminbi," kata Direktur Utama PLN Dahlan Iskan usai rapat umum pemegang saham (RUPS) di kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis 21 Januari 2010.
Menurut dia, pertimbangan untuk mencari pinjaman dalam mata uang renminbi itu karena nilai tukar rupiah terhadap renminbi cenderung menguat dibanding dolar AS.
Dahlan menjelaskan, untuk belanja modal tahun ini yang dianggarkan Rp 74 triliun, PLN akan memenuhinya dari internal Rp 3 triliun dan sisanya pinjaman maupun penerbitan obligasi.
"Capex kami Rp 74 triliun. Kemampuan PLN dari internal murni Rp 3 triliun," ujar dia.
Namun, dia melanjutkan, untuk memenuhi capex itu, perseroan juga memperoleh komitmen pendanaan yang mencapai Rp 20 triliun.
"Sisanya nanti dari obligasi, bank, atau lainnya. Mana yang akan dipilih, karena belum tentu obligasi lebih menarik dibanding pinjaman bank," ujar Dahlan.
Sementara itu, untuk belanja operasional (opex) dianggarkan Rp 144 triliun. Dana tersebut akan dipenuhi dari internal PLN dan subsidi pemerintah.
"Sumber pendanaan memang cuma dua itu," tuturnya.
Menurut dia, opex sebesar itu akan dimanfaatkan untuk kebutuhan pembangkit, transmisi, dan bahan bakar. Namun, dari opex tersebut belanja bahan bakar minyak (BBM) masih mendominasi.
"Belanja BBM akan mulai berkurang tahun depan seiring beroperasinya seluruh pembangkit 10.000 megawatt (MW)," kata dia.
arinto.wibowo@vivanews.com