VIVAnews - Pemerintah selama kurun waktu tahun anggaran 2009, mengklaim telah berhasil melakukan penghematan biaya utang (cost of borrowing). Meski kondisi ekonomi global sedang krisis, penghematan biaya utang besarnya bisa mencapai Rp 15,79 triliun.
Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto mengatakan penghematan sebesar itu terjadi akibat rendahnya realisasi biaya utang yang hanya mencapai Rp 93,8 triliun dibandingkan target APBN Perubahan (APBN P 2009) sebesar Rp 109,59 triliun.
Rahmat mengatakan penghematan itu terjadi karena dua faktor, yakni pertama karena kinerja pengelolaan utang yang baik sebesar Rp 8,82 triliun dan karena kondisi pasar uang yang mulai membaik.
"Dalam hal pengelolaan utang pemerintah berhasil menghemat karena melakukan perubahan strategi diversifikasi instrumen lebih efisien, kemudian melakukan debt switch dan buyback, restrukturisasi utang Bank Dunia, dan melakukan penerbitan multi tranche untuk pembentukan banchmark series," ujar Rahmat kepada VIVAnews, Senin 18 Januari 2010.
Sementara itu seiring mulai membaiknya kondisi pasar keuangan, tingkat utang juga bisa ditekan dan mampu menghemat sebesar Rp 6,97 triliun. Penghematan karena faktor pasar ini misalnya dengan turunnya LIBOR dan apresiasi nilai tukar rupiah.