VIVAnews - PT ATPK Resources Tbk (ATPK) kabarnya akan menggelar penawaran umum terbatas (right issue) di awal tahun depan.
"Hal itu terkait rencana perseroan mengakuisisi tambang batu bara," kata sumber VIVAnews di Jakarta, Senin malam, 28 Desember 2009.
Komisaris Utama ATPK Resources Wasisto Budiharsoyo saat dimintai konfirmasi mengakui, rencana right issue tersebut merupakan salah satu opsi yang akan ditempuh untuk membiayai aksi korporasi perseroan di tahun 2010. "Saat ini masih dalam pembicaraan para pemegang saham," ujarnya ketika dihubungi VIVAnews di Jakarta, Selasa, 29 Desember 2009.
Direktur Utama ATPK Resources Raymond A Bernardus juga mengaku penawaran umum terbatas masih dalam penjajakan perseroan. "Itu masuk dalam opsi pendanaan rencana akuisisi kami. Namun, kita yang paling siap adalah debt to equity swap (konversi utang ke saham)," tuturnya.
Dia menambahkan, pelepasan tambang-tambang batu bara maupun nikel perseroan yang mulai tidak produktif juga menjadi salah satu alternatif lain yang akan ditempuh. "Kami juga membuka diri bila ada investor yang siap menyuntikan dananya untuk mendukung langkah korporasi ATPK," kata Raymond.
Seperti diketahui, per 30 November 2009, Credit Suisse Zurich memiliki saham berkode ATPK sebesar 12,68 persen, Kim Eng Securities Pte Ltd 10,82 persen, Pershing LLC Main Custody Account 10,34 persen, dan UOB Kyai Hian Private Limited 32,39 persen. Sedangkan sisanya dimiliki publik.
Pada perdagangan Senin, 28 Desember 2009, ATPK ditutup stagnan di posisi Rp 215. Broker PT Indo Premier Securities dengan kode broker PD tercatat sebagai broker yang paling banyak mengoleksi saham ATPK Resources.
Sebelumnya, ATPK Resources berencana menjual tambang batu bara dan dua tambang nikel milik perseroan.
"Ini baru pembicaraan direksi. Tapi belum disampaikan kepada pemegang saham," kata Sekretaris Perusahaan ATPK Resources Andreas Andy di Jakarta, awal bulan ini.
Direktur Keuangan ATPK Resources Socrates Rudy Sirait menuturkan, tambang tersebut dinilai sudah tidak memiliki nilai ekonomis. "Bukan berarti tidak punya nilai jual. Hanya untuk skala ATPK, tambang tersebut kurang ekonomis," ujar dia.
antique.putra@vivanews.com