VIVAnews - Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hasan Bisri mengakui pada saat penyelamatan Bank Century pada November 2008, sedang dalam kondisi krisis. Namun Ketua Pengarah Audit Investigasi Bank Century itu tidak mengetahui psikologi pasar seperti yang disampaikan Bank Indonesia.
Dalam pemaparan di depan anggota Pansus Angket Bank Century, Hasan Bisri mengatakan, Bank Indonesia tergesa-gesa membuat analisis dampak sistemik. Menurut dia, pada saat itu indikator seperti Dana Pihak Ketiga, Non Performing Loan, dan kondisi likuditas dalam kondisi baik.
Namun ketika ditanya wartawan mengapa hanya ukuran tersebut yang dipakai, sementara rupiah melemah hingga level Rp 13.000 dan IHSG juga anjlok, Hasan mengakui bahwa pada saat itu sedang krisis. "Saya tahu itu kondisi krisis, namun persoalannya bagaimana KSSK (Komite Stabilitas Sektor Keuangan) memutuskan dengan data bank yang lengkap itu, itu saja," kata dia di sela-sela rapat dengan Pansus DPR di Jakarta, Rabu 16 Desember 2009.
Namun dalam hasil analisisis BI menyebutkan kondisi psikologis pasar. Dia mengakui tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan psikologis pasar. Menurut persepsinya jangan sampai penutupan bank menimbulkan ketidak percayaan pada perbankan.
Yang dimaksud Hasan mengenai ketidaklengkapan BI dalam memberikan data kepada KSSK, adalah BI menyatakan pada awalnya Bank Century membutuhkan modal Rp 632 miliar. Namun dalam waktu dua hari libur dana itu meningkat 4 kali lipat karena aset berupa surat surat berharga dianggap dalam kondisi macet.
Sementara pada saat pengambilan keputusan pada 21 November 2008, surat berharga yang dimiliki Century dianggap dalam kondisi lancar. "Mengapa pada saat setelah diambil alih baru BI menerapkan sistem prudent? sementara pada malam pengambilan keputusan surat berhaga itu tidak ikut dihitung."
hadi.suprapto@vivanews.com