Bisnis
Audit Bank Century

"Akhir 2008 Tekanan Krisis Sangat Hebat"

Saat itu saham ambruk, pasar surat utang juga runtuh.

Selasa, 24 November 2009, 18:00 WIB
Umi Kalsum, Agus Dwi Darmawan
Sri Mulyani Indrawati (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menggambarkan bahwa krisis global yang puncaknya terjadi diakhir tahun 2008 membuat kondisi sistem ekonomi di Indonesia memang menakutkan. Saat itu  pasar Surat Utang Negara tertekan hebat.
 
"Tekanan surat berharga syariah negara sangat hebat," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers penjelasan atas tanggapan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Selasa 24 November 2009.
 
Menurut Sri Mulyani akibat krisis global, tekanan di SBSN membuat penurunan SUN dalam negeri dan juga menyebabkan yield meningkat tajam. Rata-rata menurut catatan Departemen Keuangan bahwa dibanding sebelum krisis yang tingkat yieldnya 10 persen, pada saat krisis mencapai 17 persen.
 
"Saya sudah meminta Dirjen Pengelolaan Utang untuk mengkalkulasi dampak kenaikan yield ini dan dari data yang diperoleh setiap kenaikan 1 persen bunga utang, untuk menyebabkan lonjakan beban ke kita sebesar Rp 1,2 triliun," kata Sri Mulyani.
 
Dengan kenaikan yield mencapai 7 persen, beban pemerintah terhadap pembiayaan mencapai lebih Rp 8 triliun saat krisis waktu itu.
 
Sri Mulyani juga menyinggung soal masalah Bank Indover yang meningkatkan risiko default atau probabilitas default sangat tinggi.
Hal ini diamati dari pergerakan CDS (credit default swap) yang dari awal 2008 hanya dikisaran 250 bps, pada saat puncak krisis melonjak menjadi 1000 bps.
 
"Ini terjadi karena ada kepanikan pasar global, dan kita masuk negara dengan risiko tinggi dibuktikan dari CDS yang naik itu," katanya.

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atau 
  
webtorial