VIVAnews - Menteri BUMN Mustafa Abubakar mengatakan bahwa permasalahan terhambatnya divestasi saham PT Newmont Nusa Tenggara karena PT Aneka Tambang Tbk (Antam) ingin berdiri sendiri dengan porsi saham 50 persen : 50 persen. Alasan ini menyebabkan perundingan berjalan alot selama beberapa pekan terakhir.
"Seperti kemarin, yang kami baca (Antam) masih menghendaki 50:50 persen (dari total 31 persen saham divestasi), dengan dua konsorsium, jadi stand alone," kata Mustafa di Kantor Menko Perekonomian, Senin malam, 16 November 2009. Selain alasan itu, tidak ada alasan lain yang menghambat.
"Tidak, tidak ada masalah financing. Mereka (Antam) siap. Menurut yang mereka lapor ke saya, sebagai pemegang saham, mereka siap," ujarnya.
Dalam hal ini pemerintah pusat sebagai pemegang saham perusahaan BUMN menginginkan agar Antam tetap masuk dalam konsorsium divestasi.
"Kami mencoba menjembatani dulu, antara kepentingan Antam sebagai wakil pemerintah pusat, karena Antam akan berkonsorium dengan PT BA dan PPA dengan kepentingan pemda."
Kalau ditanya apa perannya Meneg BUMN, menurut dia, pemerintah pusat akan mencoba menengahi, sehingga ada titik temunya. "Kami sudah tugaskan kepada eselon satu kami untuk merumuskan yang mungkin dalam negosiasi," kata Mustafa.
Tapi, menurutnya, seandainya sampai dengan batas akhir yakni tanggal 23 November 2009, belum ada kesepakatan, rencana divestasi tetap akan jalan dibawah Pemda.
"Pokoknya nanti tetap berkonsorsium dengan Antam. Kan Antam itu bersama PT BA dan PPA," ujar Mustafa.