VIVAnews - Menteri Perdagangan Britania Raya (Inggris), Lord Davies of Abersoch, berkunjung ke Indonesia, 3-4 November 2009. Dalam kunjungan itu Davies mengajak pemerintah Indonesia untuk tidak tergoda melakukan proteksionisme, yang menghambat komitmen perdagangan bebas.
Siaran pers Kedutaan Besar Inggris di Jakarta mengungkapkan bahwa Davies merupakan menteri Inggris pertama yang akan bertemu dengan pemerintahan baru Indonesia. Indonesia adalah negara kedua dikunjungi Davies sebelum Malaysia.
Di Jakarta, Davies akan bertemu dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Perdagangan Mari Pangestu. Kepada para pejabat Indonesia itu, Davis akan menegaskan dukungan Inggris kepada pemerintah Indonesia atas komitmen menjunjung tinggi pasar bebas.
Davis juga akan bertemu dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral guna menunjukkan dukungan Inggris terhadap perusahaan-perusahaan minyak dan energi Inggris yang berinvestasi di Indonesia. "Indonesia adalah negara dengan kekuatan pertumbuhan ekonomi yang paling baik di wilayah Asia Tenggara dan juga salah satu negara yang berpotensi menjadi negara terpenting di masa mendatang," kata Davies dalam pernyataan tertulis.
"Kami telah mengidentifikasi negara ini sebagai sebuah pasar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi dan sangat berpotensi untuk eksportir Inggris. Perusahaan-perusahaan Indonesia dapat memperoleh keuntungan dari perdagangan dan berbisnis di Inggris. Satu-satunya cara meningkatkan kemakmuran adalah dengan tetap membuka sekat-sekat," lanjut Davies.
Tahun lalu, GDP Indonesia tumbuh hingga 6,1 persen. Kondisi ekonomi telah dibantu oleh paket stimulus sebesar $5 milyar. Bagi Inggris, Indonesia memiliki pertumbuhan kelas menengah dimana 20 juta orang memiliki daya beli yang tinggi. Pusat-pusat perbelanjaan Inggris mulai membuka cabangnya di Indonesia.